Halaman

    Social Items

Mendekati pemilu 2009, jalan-jalan mulai dari jalan protokol hingga gang-gang sempit menjelma menjadi “yellow page” bagi partai politik dan para calon legislatifnya. Spanduk dan banner berbagai ukuran hingga balego ukuran raksasa terpampang mencoba menarik perhatian. Tidak hanya bersaing dengan caleg parpol lain, di antara sesama caleg satu parpol pun mereka berlomba besar-besaran atribut kampanye. Bahkan mereka juga bersaing dengan spanduk pengumuman penerimaan siswa baru milik sekolah. Maklum, beberapa bulan lagi tahun ajaran baru dimulai. 

Beberapa minggu yang lalu sepulang dari rumah teman di daerah Depok, aku sempat berdebat dengan seorang anggota polantas yang menghentikan motorku karena salah memutar. Ternyata di putaran tersebut terdapat rambu-rambu dilarang berputar arah. Tetapi rambu-rambu tersebut sama sekali tidak terlihat akibat terhalang balego seorang caleg. Semula aku maupun polisi lalu lintas tersebut sama-sama ngotot mempertahankan pendirian masing-masing. Untung beberapa pengendara motor yang ternyata rombongan Black Motor Community berhenti saat melihat kami. Rupanya mereka melihat stiker Black Community yang tertempel di bagian belakang motorku. Dengan bantuan negosiasi dari mereka, alhamdulillah aku bebas dari surat tilang maupun uang damai. Maklum, saat itu aku cuma mengantongi uang bensin saja. Kalau dipaksa “damai” riwayat pulang dorong motor. Thanks alots to Black Motor Community.

Kisah di atas hanya satu dari sekian juta musibah yang mungkin timbul akibat ketidaktertiban orang-orang yang mengemis suara rakyat. Mereka tidak peduli bahwa kampanye mereka melanggar aturan dan melanggar hak-hak warga negara. 

Hampir Kena Tilang Gara-gara Atribut Kampanye

Mendekati pemilu 2009, jalan-jalan mulai dari jalan protokol hingga gang-gang sempit menjelma menjadi “yellow page” bagi partai politik dan para calon legislatifnya. Spanduk dan banner berbagai ukuran hingga balego ukuran raksasa terpampang mencoba menarik perhatian. Tidak hanya bersaing dengan caleg parpol lain, di antara sesama caleg satu parpol pun mereka berlomba besar-besaran atribut kampanye. Bahkan mereka juga bersaing dengan spanduk pengumuman penerimaan siswa baru milik sekolah. Maklum, beberapa bulan lagi tahun ajaran baru dimulai. 

Beberapa minggu yang lalu sepulang dari rumah teman di daerah Depok, aku sempat berdebat dengan seorang anggota polantas yang menghentikan motorku karena salah memutar. Ternyata di putaran tersebut terdapat rambu-rambu dilarang berputar arah. Tetapi rambu-rambu tersebut sama sekali tidak terlihat akibat terhalang balego seorang caleg. Semula aku maupun polisi lalu lintas tersebut sama-sama ngotot mempertahankan pendirian masing-masing. Untung beberapa pengendara motor yang ternyata rombongan Black Motor Community berhenti saat melihat kami. Rupanya mereka melihat stiker Black Community yang tertempel di bagian belakang motorku. Dengan bantuan negosiasi dari mereka, alhamdulillah aku bebas dari surat tilang maupun uang damai. Maklum, saat itu aku cuma mengantongi uang bensin saja. Kalau dipaksa “damai” riwayat pulang dorong motor. Thanks alots to Black Motor Community.

Kisah di atas hanya satu dari sekian juta musibah yang mungkin timbul akibat ketidaktertiban orang-orang yang mengemis suara rakyat. Mereka tidak peduli bahwa kampanye mereka melanggar aturan dan melanggar hak-hak warga negara. 

No comments

Please, leave your comment here.